Artikel



Apakah MEA jadi Sesuatu yang Menakutkan?


 1 Februari 2017     Luqman Hakim, ST., MT. (Dekan Fakultas Teknik Universitas NU Sidoarjo )

Tinggal beberapa bulan lagi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diberlakukan. Kebijakan yang merupakan bentuk integrasi ekonomi ASEAN akibat adanya sistem perdagangan bebas antar Negara-negara di Asia Tenggara.

Para pemimpin Negara-negara ASEAN telah sepakat untuk menjalankan MEA di akhir tahun 2015 dengan 4 pilar, yakni: pasar tunggal dan basis produksi; kawasan ekonomi berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi setara; dan kawasan yang berintegrasi penuh dengan ekonomi global.

 Penduduk Indonesia yang notabene terbesar di Asia Tenggara dan sebagian besar masyarakatnya cenderung konsumtif, menjadi peluang besar bagi Negara-negara tetangga untuk dapat masuk dan memasarkan produknya. Disamping itu, masuknya tenaga kerja asing yang siap menjadi pesaing tenaga kerja lokal akan menjadi beban tersendiri bagi pemerintah apabila hal ini tidak diantisipasi lebih dini.

Pemerintah Indonesia mulai dari tingkat terendah sampai tertinggi sebenarnya sudah melakukan upaya-upaya guna menghadapi tantangan MEA. Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi (UMKMK) sebagai sektor ekonomi nasional sangat strategis dalam pembangunan ekonomi kerakyatan. Selain itu, pemerintah juga telah melakukan peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan, workshop, serta menjalin kerjasama dengan pelbagai pihak.

Sebagai masyarakat akademik, kita sepakat bahwa sangatlah tidak cukup kalau kita hanya menilai kesiapan Indonesia dalam menyongsong MEA didasarkan pada sejarah maupun kultur budaya. Tetapi dari situlah kita dapat mengambil sebuah pelajaran, bahwa modal yang paling utama dalam menghadapi  tantangan maupun ancaman adalah sikap dan mental. Kita mampu menyikapi MEA sebagai potensi dan peluang yang sangat prospek dalam pengembangan ekonomi di Negara kita, serta bagaimana kita mampu mengubah mental kita dari sebelumnya yang cenderung konsumtif kearah yang lebih produktif.

 Adanya pesaing tidak lantas menjadikan kita mundur dan hanya bisa menjadi penonton di negeri sendiri, tetapi adanya pesaing akan kita jadikan motivasi untuk bisa berbuat lebih baik dan maju. Hal itu sudah dilakukan oleh salah satu BUMN di Negara kita, dapat kita lihat bagaimana PT. Pertamina ketika masih memonopoli penjualan Bahan Bakar Minyak di Negara ini mereka bisa dikatakan kurang maksimal dalam memberikan pelayanan terhadap konsumen, tetapi ketika monopoli tersebut telah dihapus oleh pemerintah sehingga muncul pesaing-pesaing baru seperti SHELL, PETRONAS dll, maka dapat kita lihat saat ini bagaimana perubahan-perubahan yang dilakukan Pertamina dalam meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan mulai dari kebersihan sampai dengan sikap operator dalam melayani konsumen, bahkan saat ini produknya dipasarkan ke luar negeri.  

Dari analisa di atas diharapkan perspektif masyarakat Indonesia tidak lagi menjadikan MEA sebagai sesuatu yang menakutkan tetapi bagaimana kita bisa menjadikan MEA ini sebagai potensi dan peluang yang sangat besar untuk perkembangan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang.

Oleh : Luqman Hakim, ST., MT.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo