Artikel



Mengukuhkan Sidoarjo sebagai Kota Minapolitan


 1 Februari 2017     Drs. Samiadji Musa, M.Pd (Kepala BAUK Universitas NU Sidoarjo dan Praktisi Perikanan)

Pada 14 Mei 2010, pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan yang berjumlah 197 kabupaten di 33 provinsi. Minapolitan merupakan kawasan ekonomi berbasis komoditas perikanan unggulan dengan fokus pelaksanaannya di daerah.

 

Pembentukan kawasan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas kelautan dan perikanan dengan harga ikan yang murah dan terjangkau oleh masyarakat. Sebagai salah satu daerah yang memiliki kontribusi ikan tangkap dan ikan budidaya cukup besar di Jawa Timur, Sidoarjo memiliki potensi untuk skala regional maupun nasional. Perwujudan tersebut dapat dilakukan dengan cara budidaya dengan sistem Minawana. Minawana adalah kegiatan budidaya sekaligus pelestarian eksosistem pendukung tambak (mangrove) atau dengan menggunakan sistem tandon pada beberapa blok tambak guna meminimalkan pencemaran air.

 

Untuk peningkatan budidaya kolam dapat ditempuh dengan membentuk cluster-cluster. Pada cluster itu terintegrasi wisata kuliner. Sedangkan untuk perikanan tangkap, pemerintah dapat melakukan ekstensifikasi (penyediaan teknologi dan kemitraan), intensifikasi (penyediaan alat tangkap dan perlengkapan penangkapan), diversifikasi (peningkatan penanganan dan pengolahan hasil tangkap), dan rehabilitasi (menjaga kelestarian lingkungan pesisir). Secara keseluruhan pengembangan perikanan dan kelautan di Sidoarjo dapat direalisasikan dengan menentukan kawasan minapolitan yang didukung oleh Minacenter dan kawasan Hinterland (sentra perikanan tangkap, sentra perikanan budidaya, dan sentra pembenihan).

 

Minacenter dapat dilokasikan pada kecamatan yang memiliki potensi dan peran penting serta tersedia sarana pendukung. Selain itu, dapat berfungsi sebagai pusat informasi potensi (masalah, penyelesaian masalah, dan penanggulangan penyakit) selama proses budidaya; pusat informasi penanganan pasca panen dan tangkap seperti pengawetan dan pengolahan; pusat informasi kebutuhan pasar dan pemasaran; dan pusat pengolahan. Untuk mendukung kawasan minapolitan diperlukan adanya keterpaduan antara Minabisnis hulu, Minabisnis usaha perikanan, dan Minabisnis hilir. Dengan keterpaduan tersebut diharapkan adanya saling mendukung pemenuhan kebuhan dasar, dengan pemenuhan untuk proses produksi, proses budidaya, dan proses pengolahan.